Hari Keperawatan Internasional 2018 Orasi Ilmiah Keperawatan oleh Megawati Soekarnoputri - AKADEMI KEPERAWATAN KRIDA HUSADA KUDUS
16048
post-template-default,single,single-post,postid-16048,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-theme-ver-16.7,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.5.2,vc_responsive

Hari Keperawatan Internasional 2018 Orasi Ilmiah Keperawatan oleh Megawati Soekarnoputri

Hari Keperawatan Internasional 2018 Orasi Ilmiah Keperawatan oleh Megawati Soekarnoputri

Menurut surat resmi yang dirilis oleh Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dan Gerakan Nasional Perawat Honorer Indonesia (GNPHI) tertanggal 4 dan 7 mei 2018, esok hari sabtu tanggal 12 Mei 2018 bertepatan dengan peringatan Hari Perawat Sedunia dijadwalkan mantan presiden ke-5 Megawati Soekarno Putri akan memberikan orasi ilmiah dihadapan perawat Jawa Tengah.
Orasi ilmiah tersebut akan dilaksanakan di Marina Convention Center didaerah Tawangsari – Semarang. Pada peringatan hari perawat sedunia itu rencananya akan dihadiri pula oleh Menteri Kesehatan dan Plt. Gubernur Jawa Tengah. Menurut jadwal acara tersebut akan diselenggarakan mulai pukul 07.30 – 12.00 WIB.

“Bu Megawati akan orasi seputar kesejahteraan perawat, perjuangan perawat untuk memperoleh kejelasan status dan isu penghapusan status kerja kontrak bagi perawat” kata Andi Irwan, Ketua GNPHI Pusat.
Perawat honorer yang mengikuti acara Hari Perawat Sedunia di Semarang curhat ke Megawati Soekarnoputri yang hadir untuk memberikan orasi ilmiah. Para perawat meminta ketegasan soal revisi UU ASN Pasal 131 A tentang pengangkatan ASN.
Ketua Umum Gerakan Nasional Perawat Honor Indonesia (GNPHI), Andi Irawan, dalam sambutannya mengungkapkan ada 81 ribu perawat honorer di Indonesia yang belum diangkat menjadi ASN. Bahkan ada yang masa baktinya sudah 30 tahun.
“Kami juga ingin gaji seperti di luar negeri,” kata Andi di lokasi acara, Marina Convention Center, Semarang, Sabtu (12/5/2018).
Ketua Persatuan Perawatan Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah, Edi Wuryanto, juga menyampaikan hal serupa. Selain itu rasio perbandingan jumlah perawat dan penduduk tidak imbang dan di bawah standar WHO.
“Sekarang ini 170 perawat per 100 ribu jumlah penduduk. Di Thailand 400 per 100 ribu penduduk. Standar WHO 445 per 100 ribu orang. Kami menuntut pemerintah mengangkat formasi mendekati angka 400 per 100 ribu penduduk,” tandas Edi.
“Teman-teman yang hadir kami harap diangkat ASN atau status kepegawaian lain agar hidupnya layak,” imbuhnya
Di Depan Megawati, Perawat Curhat Soal Pengangkatan
Ketua Komite Nasional Aparatur Sipil Negara, Mariyani, menjelaskan selama ini perjuangan sudah dilakukan tenaga honorer termasuk perawat soal kejelasan status mereka. Ia meminta agar Menpan RB, Menkeu, dan Menkumham segera merevisi UU ASN.
“Bapak presiden sudah menyurati 3 menteri untuk membahas DIM (daftar ivfentarisasi masalah) di DPR. Kok pak Menpan tidak ada DIM-nya. Kami dukung pak Presiden terus memerintahkan menterinya merevesi UU ASN,” kata Mariyani.
Mendengar curahan hati perawat honorer, Megawati yang diundang selaku Presiden Indonesia ke-5 itu mengatakan jika suara perawat harus didengar untuk memperbaiki sistem kesehatan di Indonesia.
“Nasib kesehatan rakyat ada di tangan mereka. Promotif, prefentif, kuratif hingga rehabilitatif tidak jalan tanpa tenaga kesehatan,” kata Megawati dalam orasi ilmiahnya.
Megawati mengaku cukup paham dengan apa yang diinginkan oleh para perawat. Ia berjanji akan menyampaikan hal itu jika bertemu dengan Presiden Joko Widodo.
“Urusannya apa saya bisa ketemu Pak Jokowi atau tidak. Pak Jokowi itu mubeng (muter) aja kayak kitiran. Ya karena apa? Beliau ingin sebagai presiden untuk memajukan bangsa negara termasuk perawat, bidan, PNS, dan sebagainya. Kan ada aturannya, sistem ini harus diperbarui maka perlu proses reformasi birokrasi,” ujarnya.
Selain Jokowi, Megawati juga berharap bisa bertemu menteri-menteri yang berkaitan dengan revisi UU ASN, terutama Menpan RB, Asman Abnur.
“Undang-undang aparatur sipil negara, hanya 1 pasal yang harus dikoreksi agar ada keadilan untuk mereka yang sudah mengabdi bertahun-tahun. Kurangnya apa? Memang kurang menterinya mesti teken,” tandas Megawati.
“Berarti adanya di Kementrianpan RB. Nanti saya bilang gini ya, ‘salam hangat dari PPNI,’ ya betul?” tanya Megawati diikuti sorak para perawat.
Dalam orasinya, Megawati tidak hanya bicara soal kesejahteraan, ia juga menyela dengan cerita cita-cita masa kecilnya yang ingin menjadi perawat. 
(alg/mbr)
Demikian informasi yang dapat infokemdikbud.com berikan, Semoga ada manfaatnya untuk kita semua

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.